psikologi

 BAB I

PENDAHULUAN


Latar Belakang

Proses kehidupan suatu individu pasti mengalami suatu perkembangan baik secara fisik maupun psikis. Perkembangan adalah perubahan menurut Santrok dan Yussen (1992) perkembangan adalah pola gerakan atau perubahan yang dimulai pada saat terjadi pembuahan dan berlangsung terus selama siklus kehidupan.

Dalam siklus kehidupan, individu mengalami beberapa tahapan dalam perkembangannya dimulai dari masa prenatal sampai masa lansia. Perkembangan tersebut bisa meliputi perkembangan fisik, kognitif, bahasa, sosioemosional, dan juga perkembangan moral. Dari tahapan perkembangan tersebut terdapat tugas yang harus dicapai oleh individu, sebagai syarat dalam pemenuhan kebutuhan manusia.

Dalam makalah kali ini kami akan membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan perkembangan individu, seperti perkembangan fisik pada individu, perkembangan kognitif menurut Piaget, perkembangan bahasa menurut Vygotsky, perkembangan sosioemosional, dan juga perkembangan moral menurut Piaget dan Kohlberg. 

Rumusan Masalah

Bagaimana perkembangan fisik pada individu?

Bagaimana perkembangan kognitif menurut Piaget?

Bagaimana perkembangan bahasa menurut Vygotsky?

Bagaimana perkembangan sosio-emosional pada individu?

Bagaimana perkembangan moral menurut Piaget dan Kohlberg?

Tujuan

Untuk mengetahui perkembangan fisik pada individu

Untuk mengetahui perkembangan kognitif menurut Piaget

Untuk mengetahui perkembangan bahasa menurut Vygotsky

Untuk mengetahui perkembangan sosio-emosional pada individu

Untuk mengetahui perkembangan moral menurut Piaget dan Kohlberg

BAB II

PEMBAHASAN


PERKEMBANGAN FISIK

Perkembangan fisik adalah perubahan menurut Santrok dan Yussen (1992) perkembangan adalah pola gerakan atau perubahan yang dimulai pada saat terjadi pembuahan dan berlangsung terus selama siklus kehidupan. Dalam membahas perkembangan fisik seorang manusia terdapat dua hal yang cukup besar terkait dengan perkembangan anatomi dan perkembangan fisiologi. 

Perkembangan anatomi 

Perkembangan anatomis ditunjukkan dengan adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang belulang. Indeks tinggi dan berat badan, proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan badan secara keseluruhan. 

Perkembangan fisiologi 

Perkembangan fisiologis ditandai dengan adanya perubahanperubahan secara kuantitatif, kualitatif dan fungsional dari sistem-sistem kerja hayati seperti konstraksi otot, peredaran darah dan pernafasan, persyaratan, sekresi kelenjcar dan pencernaan.

Perkembangan fisik pada individu dibagi menjadi beberapa masa: 

Masa anak-anak

Perkembangan fisik pada masa ini, pada umumnya anak mulai kehilangan penampilan bayi, bulat, dan lebih langsing. Otot-otot perut mereka berkembang, pinggang mereka lebih ramping, dari segi badan, lengan, dan kaki juga semakin panjang, intinya proporsi tubuh mulai stabil menjadi seperti orang dewasa. Selain itu, juga terjadi perubahan atau peningkatan pada kemampuan anak pada masa kanak-kanak awal ini yaitu kemampuan untuk berlari, melompat, dan melempar bola. 

Masa Pra-Remaja 

Masa Pra-Remaja (bahasa Inggris: preadolescence), adalah tahap perkembangan manusia setelah masa anak usia dini dan sebelum masa remaja. Ini biasanya berakhir dengan awal pubertas, tapi mungkin juga didefinisikan sebagai diakhiri dengan tahun-tahun remajanya. Misalnya, definisi kamus umumnya menunjuknya sebagai 10-12 tahun. 

Pada masa pra-remaja anak-anak nampak postur tubuhnya tinggi-tinggi tapi kurus. Lengan dan kaki leher mereka panjang-panjang.

Masa Remaja 

Masa remaja merupakan periode yang berlangsung dari sekitar usia 11 hingga 21, mencakup banyak perubahan sosial dan emosional. Transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa ini mengarah pada perilaku yang berubah dengan cepat, gangguan identitas dan emosi yang kuat. Berikut adalah perubahan-perubahan yang dialami pada masa remaja:

Laki-laki:

Mimpi basah

Mimpi basah merupakan ereksi di pagi hari tanpa di sadari dengan mengeluarkan air mani.

Jakun membesar

Tumbuh rambut di beberapa area

Suara berubah (membesar)

Otot terbentuk

Bahu lebar dan tegap

Jaringan kulit (pori" membesar)

Tumbuh jerawat

Tubuh tinggi dan besar

Perempuan

Menstruasi

Payu darah membesar

Tumbuh rambut di beberapa area

Muncul jerawat

Suara lebih nyaring

Tumbuh tinggi



PERKEMBANGAN KOGNITIF MENURUT PIAGET

Pengertian Perkembangan Kognitif 

Perkembangan kognitif adalah tahapan-tahapan perubahan yang terjadi dalam rentang kehidupan manusia untuk memahami, mengolah informasi, memecahkan masalah dan mengetahui sesuatu. Teori Perkembangan kognitif dari Piaget memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan. Secara ringkas, teori Piaget menjelaskan bahwa selama perkembangannya, manusia mengalami perubahan-perubahan dalam struktur berfikir, yaitu semakin terorganisasi, dan suatu struktur berpikir yang dicapai selalu dibangun pada struktur dari tahap sebelumnya. Perkembangan yang terjadi melalui tahap-tahap tersebut disebabkan oleh empat faktor: kematangan fisik, pengalaman dengan objek-objek fisik, pengalaman sosial, dan ekuilibrasi. (Mery Latifah, 2008). 

Konsep Pokok Teori Perkembangan Kognitif

Untuk memahami teori perkembangan kognitif Piaget, terdapat beberapa kata kunci atau konsep pokok dari teori perkembangan kognitif Piaget. Berikut rangkuman kata kunci dari berbagai literatur yang membahas tentang teori Piaget (Abin Syamsudin Makmun, 2004., Monk & Knoers, 2006., Jarviss,2007., Boeree, 2008., Woolfolk & Nicolich, tt., Sarlito Wirawan, 2008.,) 

Pola (Schema) adalah paket-paket informasi yang masing-masing dari informasi tersebut memiliki hubungan dengan satu aspek dunia, termasuk objek, aksi, dan konsep abstrak.

Asimilasi (assimilation) proses penggabungan informasi baru ke dalam pola-pola yang sudah ada.

Akomodasi (accomodation) pembentukan pola baru untuk membentuk informasi dan pemahaman baru.

Operasi (operation) penggambaran mental tentang aturan-aturan yang terkait dengan dunia.

Struktur kognitif (cogitive structure) kerangka berpikir individu yang merupakan kumpulan informasi yang telah didapatkan, hal ini berhubungan pola kognitif (cognitive schema) yang merupakan perilaku tertutup berupa tatanan langkah-langkah kognitif (operasi) yang berfungsi memahami apa yang tersirat atau menyimpulkan apa yang direspon.

Ekuilibrum atau keseimbangan (equilibrum) keseimbangan antara pola yang digunakan dengan lingkungan yang direspons sebagai hasil kecepatan akomodasi, atau keadaan mental ketika semua informasi yang diperoleh dapat dijelaskan dengan pola-pola yang ada.

Pokok Teori Perkembangan Kognitif

Pokok teori perkembangan kognitif Piaget berasumsi bahwa setiap organisme hidup dilahirkan dengan dua kecenderungan fundamental, yaitu ; a) kecenderungan untuk adaptasi, dan b) kecenderungan untuk organisasi (Monk & Knoers, 2006, Woolfolk & Nicholich, tt: 62 ).

Menurut Piaget, ada dua proses yang dilakukan oleh anak dalam menggunakan dan mengadaptasikan skema yaitu :

Asimilasi yaitu suatu proses mental yang terjadi ketika seorang anak memasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada; dan

Akomodasi yaitu suatu proses mental yang terjadi ketika anak menyesuaikan diri dengan informasi baru. 

Selain itu, secara kognitif anak-anak juga mengorganisasikan pengalamannya yang disebut dengan organisasi. Menurut Piaget organisasi adalah usaha mengelompokkan perilaku yang terpisah-pisah menjadi urutan yang lebih teratur. Bagaimana anak bergerak dari satu tahap pemikiran ke tahap pemikiran selanjutnya ? Piaget menyebutnya dengan ekuilibrasi. Kondisi ini dialami si anak ketika terjadi konflik kognitif atau disekuilibrium. Misalnya anak akan mengalami kebingungan jika benda cair dituangkan ke dalam wadah yang berbentuk sempit dan tinggi. Kebingungan akan terjawab saat pikirannya semakin maju.

Tahap-tahap Perkembangan Kognitif

Berikut ini adalah tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget yang dirangkum dari berbagai literatur yaitu : 1) tahap sensorimotor (usia 0–2 tahun), 2) tahap praoperasional (usia 2–7 tahun), 3) tahap operasional konkrit (usia 7–11 tahun), dan 4) tahap operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa) (Abin Syamsudin Makmun, 2004., Monk & Knoers, 2006., Jarviss,2007., Boeree, 2008., Woolfolk & Nicolich, tt., Sarlito Wirawan, 2008.).


PERKEMBANGAN BAHASA MENURUT VYGOTSKY

Perkembangan Bahasa Berkaitan dengan Perkembangan Kognitif

Bahasa merupakan suatu urutan kata-kata, dan bahasa dapat digunakan untuk menyampaikan informasi mengenai tempat yang berbeda atau waktu yang berbeda. Vygostsky (1978) berpendapat bahwa perkembangan bahasa seriring dengan perkembangan kognitif, malahan saling melengkapi, keduanya berkembang dalam satu lingkup sosial.

Vygotsky dalam Jamaris (2006: 34) mengemukakan bahwa “ada dua alasan yang menyebabkan perkembangan bahasa berkaitan dengan perkembangan kognitif. Pertama, anak harus menggunakan bahasa untuk berkomunikasi atau berbicara dengan orang lain. Kemampuan ini disebut dengan kemampuan bahasa secara eksternal dan menjadi dasar bagi kemampuan berkomunikasi kepada diri sendiri. Kedua, transisi dari kemampuan berkomunikasi secara eksternal kepada kemampuan berkomunikasi secara internal membutuhkan waktu yang cukup panjang. Transisi ini terjadi pada fase praoperasional, yaitu pada usia 2-7 tahun. Selama masa ini, berbicara pada diri sendiri merupakan bagian dari kehidupan anak. Ia akan berbicara dengan berbagai topik dan tentang berbagai hal, melompat dari satu topik ke topik lainya. Pada saat ini anak sangat senang bermain bahasa dan beranyanyi. Pada usia 4-5 tahun, anak sudah dapat berbicara dengan bahasa yang baik, hanya sedikit kesalahan ucapan yang dilakukan anak pada masa ini. Kemudian, pada perkembangan selanjutnya anak akan bertindak tanpa berbicara. Apabila hal ini terjadi, maka anak telah mampu menginternalisasi percakapan egosentris (berdasarkan sudut pandang sendiri) ke dalam percakapan di dalam diri sendiri.

Pengaruh Kontak Sosial Terhadap Perkembangan Bahasa

Vygotsky menjelaskan pula bahwa bahasa dipengaruhi oleh kontak sosial. Dengan kata lain, perkembangan bahasa tidak ada hubungannya dengan batasan umur karena konsep bahasa dipengaruhi oleh kognisi yang diperoleh dari lingkungan. Misalnya, anak yang terbiasa membaca akan lebih banyak menyimpan kosakata dibandingkan dewasa yang hanya memperoleh kosakata dari apa yang 7 didengarnya sehari-hari. Dalam hal ini, Vygotsky (Adam, 2014) mengemukakan adanya Private Speech, yakni ucapan pada diri sendiri yang dapat meningkatkan keterampilan berbahasa dalam lingkungan sosial. 

Vygotsky (Adam, 2014: 254) juga mengemukakan pandangannya mengenai adanya empat tahapan dalam perkembangan bahasa, yakni sebagai berikut. 

More dependence yaitu tahap seseorang masih bergantung pada orang lain untuk mendapatkan bahasa.

Less dependence yaitu tahap seseorang mencari bahasa secara mandiri dengan mulai melepaskan ketergantungan kepada orang lain.

Internalization yaitu tahap dimana bahasa dapat diucapkan secara alami.

De-automatization yaitu tahap dimana seseorang telah mampu memunculkan gaya bahasa dan sense of language. 

Berdasarkan tahapan di atas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan bahasa dipengaruhi oleh kehidupan sosial dimana seseorang dapat mempelajari dan mengembangkan keterampilan berbahasanya sendiri. Seorang anak akan membutuhkan bantuan orang dewasa dalam memahami bahasa atau disebut juga dengan Zone of Proximal Development (ZPD). Melalui peniruan dan pemahaman dari orang dewasa, bahasa anak terus berkembang serta dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Dengan kata lain, antara bahasa dan budaya memiliki keterkaitan yang erat dalam suatu siklus sosial masyarakat pengguna bahasa.

PERKEMBANGAN SOSIO-EMOSIONAL

Perkembangan Sosial

Pengertian Perkembangan Sosial

Yusuf (2009) menyatakan bahwa Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Perkembangan sosial dapat pula diartikan sebagao proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi ; meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama. Sunarto dan Hartono (2002) menyatakan bahwa hubungan sosial (sosialisasi) merupakan hubungan antar manusia yang saling membutuhkan. Hubungan sosial mulai dari tingkat sederhana dan terbatas, yang didasari oleh kebutuhan yang sederhana. Semakin dewasa dan bertambah umur, kebutuhan manusia menjadi kompleks dan dengan demikian tingkat hubungan sosial juga berkembang amat kompleks.

Tahap Perkembangan Sosial

Menurut Hurlock (2004) tiga proses dalam perkembabangan sosial adalah sebagai berikut: 

Berprilaku dapat diterima secara sosial 

Untuk dapat bersosialisasi, seseorang tidak hanya harus mengetahui prilaku yang dapat diterima, tetapi mereka juga harus menyesuaikan prilakunya sehingga ia bisa diterima sebagaian dari masyarakat atau lingkungan sosial tersebut.

Memainkan peran di lingkungan sosialnya

Setiap kelompok sosial mempunyai pola kebiasaan yang telah ditentukan dengan seksama oleh para anggotanya dan setiap anggota dituntut untuk dapat memenuhi tuntutan yang diberikan kelompoknya.

Memiliki Sikap yang positif terhadap kelompok sosialnya 

Untuk dapat bersosialisasi dengan baik, seseorang harus menyukai orang yang menjadi kelompok dan aktifitas sosialnya. Jika seseorang disenangi berarti, ia berhasil dalam penyesuaian sosial dan diterima sebagai anggota kelompok sosial tempat mereka menggabungkan diri.

Bentuk Perilaku Sosial

Yusuf (2009) menjelaskan beberapa bentuk tingkah laku sosial yang kerap kali muncul dalam perkembangan sosial anak diantaramya sebagai berikut :

Pembangkangan (Negativisme) 

Bentuk tingkah laku melawan. Tingkah laku ini terjadi sebagai reaksi terhadap penerapan disiplin atau tuntutan orang tua atau lingkungan yang tidak sesuai dengan kehendak anak. Tingkah laku ini mulai muncul pada usia 18 bulan dan mencapai puncaknya pada usia tiga tahun dan mulai menurun pada usia empat hingga enam tahun.

Agresi (Agression) 

Yaitu perilaku menyerang balik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi merupakan salah bentuk reaksi terhadap rasa frustasi ( rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan atau keinginannya). Biasanya bentuk ini diwujudkan dengan menyerang seperti ; mencubut, menggigit, menendang dan lain sebagainya. 

Berselisih (Bertengkar) 

Sikap ini terjadi jika anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap atau perilaku anak lain.

Menggoda (Teasing) 

Menggoda merupakan bentuk lain dari sikap agresif, menggoda merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan) yang menimbulkan marah pada orang yang digodanya.

Persaingan (Rivaly) 

Yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain. Sikap ini mulai terlihat pada usia empat tahun.

Kerja sama (Cooperation) 

Yaitu sikap mau bekerja sama dengan orang lain. Sikap ini mulai nampak pada usia tiga tahun atau awal empat tahun, pada usia enam hingga tujuh tahun sikap ini semakin berkembang dengan baik.

Tingkah laku berkuasa (Ascendant behavior) 

Yaitu tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap bossiness. Wujud dari sikap ini adalah ; memaksa, meminta, menyuruh, mengancam dan sebagainya.

Mementingkan diri sendiri (selffishness) 

Yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya.

Simpati (Sympaty) 

Yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain mau mendekati atau bekerjasama dengan dirinya. 

Penyesuaian diri atau sosial 

Penyesuaian diri merupakan faktor yang penting dalam kehidupan manusia. Penyesuaian diri ini dilakukan sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhannya. Tiap individu mungkin dalam melakukan penyesuaian diri dapat berbeda-beda satu sama lainnya. Hal ini bergantung pada sifat dan caranya. 

Dalam kehidupan sehari-hari, individu secara terus menerus menyesuaikan diri dengan cara-cara tertentu hingga membentuk suatu pola tersendiri. Bentuk-bentuk penyesuaian diri dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok, yaitu penyesuaian normal dan penyesuaian menyimpang. Penjabarannya adalah sebagai berikut:

Penyesuaian normal 

Individu yang memiliki penyesuaian normal (well adjusted) ciri-cirinya adalah mampu merespon kebutuhan dan masalah secara matang, efisien, puas, dan sehat (wholesome). 

Adapun karakteristik penyesuaian yang normal adalah sebagai berikut:

Absence of excessive emotionality, yaitu terhindar dari ekspresi emosi yang berlebih-lebihan, merugikan, atau kurang mampu mengontrol diri.

Absence of psychological mechanisme, yaitu terhindar dari mekanisme psikologis seperti rasionaliasi, agresi, dan lain sebagainya.

Absence of the sense of personal frustration, yaitu terhindar dari perasaan frustasi atau perasaan kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhannya.

Rational deliberation and self-direction, yaitu memiliki pertimbangan dan pengarahan diri yang rasional.

Ability to learn, yaitu mampu belajar dan megambangkan kualitas dirinya. 

Utilization of past experience, yaitu mampu memanfaatkan pengalaman masa lalu untuk mengembangkan kualitas hidup yang lebih baik.

Realistic and objective attitude, yaitu bersikap objektif dan realistis dalam hidup.

Penyesuaian menyimpang 

Penyesuaian diri yang menyimpang atau tidak normal merupakan proses pemenuhan kebutuhan atau upaya pemecahan masalah dengan cara-cara yang tidak wajar atau bertentangan dengan norma yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Penyesuaian yang menyimpang ini ditandai dengan responrespon sebagai berikut:

Perasaan rendah diri (inferiority)

Inferiority merupakan perasaan atau sikap yang pada umumnya tidak disadari yang berasal dari kekurangan diri baik secara nyata maupun maya (imajinasi). Sikap ini dipengaruhi oleh kondisi fisik, psikologis, dan kondisi lingkungan yang tidak kondusif. Gejala-gejala yang ditunjukkan antara lain peka, senang mengkritik, senang menyendiri, pemalu, penakut, dan lain sebagainya.

Perasaan tidak mampu (inadequacy)

Inadequacy merupakan ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi tuntutan-tuntutan dari lingkungan. Faktor penyebabnya adalah frustasi dan konsep diri yang tidak sehat.

Perasaan gagal (failure) 

Seseorang yang merasa bahwa dirinya tidak mampu cenderung mengalami kegagalan untuk melakukan sesuatu atau mengatasi masalah yang dihadapinya.

Perasaan bersalah (guilty) 

Perasaan ini mucul setelah seseorang melakukan perbuatan yang melanggar aturan moral atau sesuatu yang dianggap berdosa.

Perkembangan Emosional

Pengertian perkembangan Emosional

Emosi oleh Crow & Crow dalam Sunarto & Hartono (2002) diartikan sebagai pengalaman afektif yang disertai penyusuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental fisik dan berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan oleh Sarwono dalam Yusuf (2009) bahwa emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah (dangkal) maupun pada tingkat yang luas (mendalam).

Dengan kata lain dapat dijelaskan bahwa perkembangan pada aspek emosi ini merupakan segala pengalaman afaktif yang terjadi dalam kehidupan manusia yang membantu mereka dalam mengenali dan merespon segala bentuk gajala emosi yang ada didalam dirinya meliputi kemampuan untuk mencintai; merasa nyaman, berani, gembira, takut, dan marah; serta bentuk-bentuk emosi lainnya.

Pengelompokan emosi 

Emosi secara umum dapat dibagi menjadi 2 aspek atau kelompok yaitu kelompok emosi sensorik dan kelompok kejiwaan atau psikis (Yusuf, 2009).

Emosi sensorik, merupakan emosi yang ditimbulkan oleh rangsangan dari luar terhadap tubuh kita dan biasanya sangat terkait dengan fungsi sensorik dalam organ atau indra kita seperti halnya peraaan dingin, manis, sakit,, lelah, kenyang, dan lapar.

Emosi psikis, merupakan bentuk-bentuk emosi yang mempunyai alasanalasan kejiwaan. Beberapa bentuk emosi kejiwaan atau psikis biasanya muncul akibat sensor luar yang lebih kuat atau dalam tidak hanya pada sisi organ atau indra kita seperti halnya pada emosi sensorik seperti halnya:

Perasaan intelektual, perasaan ini erat kaitanya dengan penalaran dan ruang lingkup kebenaran. Bentuk perwujudan perasaan intelektual biasanya berbentuk rasa yakin dan tidak yakin terhadap suatu hal hasil karya ilmiah atau mungkin perasaan gembira dan senang akan mampu mencapai sebuah kebenaran atau keberasilan setelah menyelesaikan sebuah persoalan ilmiah.

Perasaan sosial, merupakan perasaan yang menyangkut hubungan dengan orang lain, perasaan-perasaan simpati, rasa solidaritas antar sesama, ingin berbaur, diterima, dan kasih sayang yang dapat ia terima atau ungkapkan. Perasaan sosial disini tentunya dapat bersifat perseorangan atau mungkin lebih besar dari itu dalam bentuk kelompok atau komunitas tertentu dalam masyaakat dan bahkan lebih luas.

Perasaan susila, perasan ini berhubungan dengan nilai baik dan buruk atau etika (moral) yang ada dalam kontek sosial maupun diri. Rasa tanggung jawab, perasaan bersalah saat melanggar sebuah aturan yang berlaku, perasaan yang nyaman dan aman saat segala sesuatu berjalan sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku menjadi salah satu contoh dari bentuk perasaan ini.

Perasaan keindahan (Estetika), peraaan ini berkaitan erat dengan keindahan dari sesuatu, perasaan ini dapat bersifat terkait dengan kebendaan atau kerohaniaan. Sebagai contoh saat senang dan puas saat melihat sesuatu diterapkan sesuai denga tempat dan kompisisinya yang sesuai, atau kesahajaan seseorang dalam menjalankan kehidupan sesuai dengan tuntunan yang benar.

Perasaan keTuhanan, salah satu kelebihan manusia adalah sebagai makhluk tuhan, dianugerahi fitrah (kemampuan atau perasaan) untuk mengenal tuhannya. Sebagai makhluk “homo Devinans” atau Homo Religius” maka manusia merasakan sesuatu kenyamaan atau keberutuhan saat segala sesuatu sesuai dengan tuntunan agama dan dilakukan hanya untuk tuhan.

Faktor yang mempengaruhi perkembangan emosi 

Berbagai hal menjadi faktor akan perkembangan emosi seseorang individu. Harlock dalam Sunarto dan Hartono (2002) menjelaskan bahwa sebagian besar perkembangan dipengaruhi oleh adanya faktor kematangan dan belajar seseorang. Kemampuan seseorang dalam berfikir dan intelektual dalam cangkupan perkembangan kognitif dan bahasa memberikan sumbangan besar dalam kematangan individu. Hal ini nampak pada bagaimana seseoran mampu memaknai setiap pengalaman kehidupan yang terjadi salama perkembangan dari awal sampai akhir hayat seseorang. Semakin baik dan utuh seseorang dalam memaknai kehidupannya memberikan kematangan pada seseorang akan bentuk emosi yang dimiliki dalam merespon setiap kondisi yang ada. Faktor kematangan kognitif dan bahasa dalam pengaruh emosi juga pada perkembangan fisik terutama otak. Kemampuan respon dan pengolahan data pada otak akan memberikan pengaruh besar akan kemampuan seseorang dalam memaknai bahasa dan kondisi lingkungan yang ada. Selanjutnya pengaruh tersebut akan membentuk aspek emosi yang khas pada individu sesuai dengan tingkat kemampuannya dalam merespon. Hal yang sama juga mempengaruhi terkait dengan kematangan moral dan sosial individu.

Terkait dengan metode dan faktor belajar yang dilalui, Sunarto dan Hartono (2002) menjelaskan pengaruh beberapa hal yang mungkin dapat menghambat dan mendorong perkembangan emosi seseorang diantaranya:

Belajar dengan coba-coba

Belajar dengan cara meniru

Belajar dengan cara mempersamakan diri

Belajar melalui pengkondisian

Pelatihan atau belajar dibawah bimbingan dan pengawasan terbatas pada aspek reaksi.


Komentar